Memahami Amalan-amalan Para Sufi
Tulisan
ini dibuat untuk merespon dari buku yang berjudul “Syiah dan Tarekat Sufi Dua
Sisi Mata Uang” atau yang dalam teks arabnya "As-Sufiyah wa al-Syi'ah Wajhan li 'Umlah Wahidah". Alasanya dari dibuanya tulisan ini sebagai bentuk konfirmasi
dari anggapan Syaikh Ahmad Rusydi yang menyamakan kaum sufi dengan kaum syiah.
Setelah
membaca dari buku tersebut saya kurang sependapat dengan apa yang dikemukakan
dalam buku tersebut. ada banyak jastifikasi yang saya nilai kurang tepat yang
dilontarkan oleh penulis buku tesebut.
Memang,
saya bukan dari kalangan sufi, tapi saya besar dan tumbuh dikalangan sufi. Banyak
keluarga dan teman saya yang mengikuti thariqah sufiyyah. Jadi setidaknya
sedikit banyak mengetahui tentang amalan-amalan yang orang terdekat saya
lakukan.
Sebenarnya
saya sudah tidak ‘sreg’ membaca buku ini dari awal. Ketika saya membaca buku
tersebut seolah-olah penulis sudah mengeluarkan prasangka negatif dalam menulis
buku tersebut. sama seperti kita ketika melihat seseorang yang kita tidak suka,
maka ketika melihat dia berbuat positif-pun ditafsirkan dengan negatif. Semua serba
salah di mata kita.
Banyak
disampaikan dari buku tersebut yang saya ingin taanggapi, tapi disini saya akan
mengkonformasi beberapa hal saja. Mungkin saya akan sambung dalam tulisan saya
selanjutnya.
Tidak perlu dalil untuk menyanggah masalah ini, karena
kalau memakai dalil tentunya aka ada dalil lain untuk menyaanggahnya. Bukannya
ada kontradiksi antara kedua dalil yang bertentangan, tapi cara berpikir
kitalah yang kurang tepat untuk mengartikan sebuah hadits yang bertentangan. Jadi
disini akan lebih mengelaborasi dari kasus tersebut berdasarkan aqli saja
Dari
bab satu mungkin tidak perlu saya konfirmasi, karena uraian penjelasan dalam
buku tersebut tidak menimbulkan jastifikasi yang saya kira tidak benar. maka
dari itu saya lanjutkan memulai mengomentari mulai dari sub judul “Berlebihan
terhadap Ahlul Bait” halaman 27.
Dalam
buku tersebut dijelaskan bahwa kaum sufi berelebihan dalam mengagung-agungkan
ahlul bait. Penulis membuat kesimpulan tersebut dengan mengambil sepenggal dari
karangan satu dua ulama sufi saja. Kemudian
dengan dalil sepenggal tersebut, penulis mengglobalkan pendapat tersebut dan
mengidentikkan bahwa hal tersebut menjadi apa yang menjadi kepercayaan kaum
sufi.
Penulis
dalam buku ini mengutip kitab bahwa kaum sufi mengganggap ahlul bait sebagai
orang yang suci, bahkan sampai kotorannyapun suci. Sebenarnya hal tersebut
tidak tepat, teman saya juga ada yang berasal dari ahlul bait, tapi beliau
masih menganggap bahwa kotorannya itu najis sepertihalnya kotoran manusia
lainnya. Kemudian saya melihat orang-orang terdekat saya yang sudah menyelami
dunia sufi bahwa apa yang mereka lakukan kepada ahlul bait biasa saja
sepertihalnya manusia yang lainnya.
Memang
orang suci sangat menghormati ahlul bait, maksud ‘menghormati’ disini
dikarenakan mereka adalah cucu Nabi Muhammad yang selama ini orang Islam yakini
bahwa beliau adalah Rasul yang menyampaikan risalah Tuhan kepada umatnya. Maka
dari jasa Kakek dari ahlul bait tersebut (Nabi Muhammad) kita sepantasnya
menghormati ahlul bait tersebut. kalau saya analogikan seperti halnya kita
menghormati Mas Kaesang putra Presiden Jokowi. Kita sepantasnya menghormati
beliau karena jasa ayahnya yang sangat besar kepada negara kita.
Jika
kita menghormati mas Kaesang, kenapa tidak kita menghormati ahlul bait yang
justru jasa kakeknya lebih besar dari jasa presiden. Jasanya jika presiden
jasanya haanya di dunia saja, maka jasa kakek ahlul bait menackup dua dimensi,
yaitu dunia akhirat. hehe
Memang
analogi tersebut tidak bisa disamakan seutuhnya antara putra Presiden dengan
ahlul bait. Karena analogi terhadap suatu hal itu disamakan karena sebuah
alasan. Adapun batasan analogi antara dua hal hanyalah sebatas persamaan
alasannya saja. maka, tidak boleh menganalogikan dua hal dengan suatu alasan
kemudian mengeneralisir bahwa hal tersebut sama persis seperti hal yang
disamakannya. seperti halnya permen dan buah mangga. Kedua tersebut dapat
dicari titik persamaannya, yaitu sama-sama manis. Tapi dengan alasan ‘manis’
tersebut tidak menjadikan bahwa permen itu sama persis dengan buah mangga dalam
hal bentuk, tekstur, dan warnanya.
Dalam
hal ini ahlul bait dianalogikan dengan anak presiden karena mempunyai kesamaan
‘jasa yang telah diperbuat oleh bapak/kakeknya’. Salah satu yang membedakan
keduanya salah satunya dalam hal menghormatina. Cara menghormati anak presiden
adalah dengan cara menonton vlognya.. hehe.. sementara menghormati ahlul bait
adalah dengan cara mengikut sertakan ahlul bait ketika kita menyanjung
kakeknya.
Selanjutnyaa,
ada ungkapan lain dari penulis seolah-olah mengingkari dari qutub. Inti dari
qutub adalah orang yang menjadi garda depaan dalam dakwah meneruskan apa yang
sudah dilakukan oleh kakeknya.
Coba
kita resapi bersama, setiap orang pasti mewarisi gen dari ayah atau ibunya. Jika
ada orang yang berkulit hitam, maka bisa diprediksi bahwa orang tuanya salah
satunya ada yang hitam atau mungkin keduanya. Faktor gen tersebut mempunyai
andil yang besar untuk mewarisi keturunannya. Adapun faktor lain seperti
terlalu sering terkena terik matahari adalah faktor eksternal yang faktornya
tidak asli dari asal bentuknya.
Kemudian
jika kita analogikan bahwa qutub hanya bisa disandang oleh ahlul bait tidak
yang dari yang lainnya memang dirasa benar. karena qutub mewarisi karakter nabi
sehingga dapat meneruskan dakwah kepada umat-Nya. Dalam satu kurun, qutub
disandang oleh satu orang yang memang menjadi orang yang paling utama dalam hal
keimanan. Kemudian jika qutub tersebut wafat diangkatlah qutub baru untuk
menggantikan qutub yang telah wafat tersebut.
Orang
yang tidak mempunyai garis keturunan dari nabi memang tidak dapat menjadi qutub
meskipun dengan cara beribadah selama hidupnya. karena tidak mempunyai bibit
untuk memimpin umat dalam hal dakwah. Seperti halnya kodrat laki-laki yang
menjadi pemimpin rumah tangga, ahlul baitpun mempunyai kodrat-potensi untuk
memimpin umat. Seperti halnya kulit hitam sejak lahir, maka warna kulitnya akan
berbeda dengan orang yang berkulit hitam karena terik matahari.
Akan
tetapi disini bukan malah mengendorkan semangat beribadah orang yang selain
ahlul bait karena tidak dapat menjadi qutub. Bagaikan majikan dengan buruh,
buruh tidak seharusnya malas-malasan dalam bekerja karena tidak dapat menyamai
kehidupan majikannya. Yang patut diyakinkan kepada buruh, bahwa buruh harus
bekerja keras untuk mendapatkan gaji yang banyak agar menjadi buruh yang
terdepan dari buruh-buruh yang lainnya. Bukan berarti iri kepada maajikan dan
memusuhinya. Buruh harus meyakini bahwa ketika bersyukur di posisinya akan
membuahkan kenikmatan yang membuatnya bahagia.
Semoga
bermanfaat....

Comments