Seperti Apakah Rahmat Tuhan?
Ketuhanan Rahmat
Manusia, hewan, dan segala yang di alam ini
diciptakan tak lepas dari rahmat tuhan. tuhan menciptakan segala yang ada di
alam ini dengan rahmatnya, yaitu rahmat ciptaan. Sesudah tuhan menciptakan
setiap benda yang ada di alam ini, setiap benda tumbuh dan berkembang dengan
rahmat tuhan. Manusia menjadi semakin besar dan pintar, batang kayu menjadi
besar dan berkembang biak, begitu juga
binatang dan benda mati. Tidak dibedakan ileh Tuhan memberi Rahmat-Nya terhadap
manusia yang baik, saleh atau manusia yang jahat.[1]
Dalam surat al-An’am ayat 12, Allah telah menjelaskan bahwa Allah menetapkan pada Dzat-Nya sifat al-Rahmah:
قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ لِلَّهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah:
“siapakah Dzat yang mempunyai segala yang ada di langit dan bumi? Katakanlah:
“Dia menetapkan atas diri-Nya kasih saying, sungguh Dia akan mengumpulkan kalian
pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadap-Nya. Orang yang merasa rugi, maka mereka tidak beriman.”
Dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa
al-Rahmah adalah al-Riqqah wa al-Taa’tuf wa al-Marhamah, yang artinya
kelembutan yang berepadu dengan rasa iba dan kasih saying. Rahmat Allah memang sangat
luas, ini berarti Allah menetapkan
kepada
DzatNya sifat kasih sayang yang lembut dengan
rasa belas kasih kepada makhlukya.
Dalam tafsir al-Qurtubi kalimat “kataba ala nafsihi al-rahmah”
dengan tafsiran bahwa Allah menmberlakukan kepada hambaNya sifat rahmat atau
kasih sayang, tidak tergesa-gesa dalam menyikasa hambaNya, dan Allah menerima
kembali(ke jalan Allah) dan taubatnya. Ini difirmankan oleh Allah untuk
mendamaikan dan mengembalikan para penentang-penetang Allah dan Allah menerima
taubatnya.[2]
Adapun Rahmat Allah meliputi semua makhluk yang yang diciptakannya.
Allah membagi rahmat-Nya dengan merata dan tak
pandang bulu. karena dalam Tuhan mempunyai asma, yaitu al-Rahman. Al-Rahman
adalah salah satu nama Tuhan yang berarti Tuhan yang membagi Rahmat-Nya dengan
merata, kepada semua makhluk-Nya, baik makhluk berakal atau tidak berakal, yang
hidup atau sudah mati, yang taat ataupun yang kafir.[3]
Ini disebaaban Rahmat Allah ada yang
diturunkan di dunia dan ada yang masih disimpan di hari kiamat nanti seperti
dalam hadist:
حدثنا بشر بن معاذ قال، حدثنا يزيد بن زريع قال، حدثنا سعيد، عن قتادة، عن أبي أيوب، عن عبد الله بن عمرو: أنه كان يقول: إن لله مئة رحمة، فأهبط رحمةً إلى أهل الدنيا، يتراحم بها الجن والإنس، وطائر السماء، وحيتان الماء، ودوابّ الأرض وهوامّها. وما بين الهواء. واختزن عنده تسعًا وتسعين رحمة، حتى إذا كان يوم القيامة، اختلج الرحمةَ التي كان أهبطها إلى أهل الدنيا، فحواها إلى ما عنده، فجعلها في قلوب أهل الجنة، وعلى أهل الجنة[4]
Hadist yang diceritakan Basyar bin
Muadz, dia berkata: hadits ini diceritakan Yazid bin Zurai’ berkata: “Sai’d
bercerita kepada saya”. Dari Qatadah, dari Abi Ayyub, dari Abdullah bin Amr’:
sesungguhnya Nabi Muhammad berkata: “Sungguh Allah mempunyai seratus Rahmat,
kemudian Allah menurunkan rahmat kepada ahli dunia. Karena RahmatNya jin,
manusia, hewan yang ada di langit, hewan yang ada di air, hewan yang ada di
bumi, beserta seranggnya, dan segala yang ada di udara saling mengasihi. Dan
Allah menyimpan di sisiNya 99 Rahmat, hingga kelak pada hari kiyamat, Allah
mencabut Rahmat yang diturunkannya kepada ahli dunia, kemudian meletakkan
disisiNya, dan Allah memberikannya kepada ahli surga, dan kepada selain ahli surga.
Dalam ayat tersebut menyebutkan Allah
memiliki segala yang ada dilangit dan di bumi, selain itu Allah juga
menyebutkan akan mengumpulkan di hari kiamat. Maka kami akan membahasnya Rahmat
dengan dua penjabaran, yaitu Rahmat yang ada di bumi dan langit (Rahmat dunia)
dan Rahmat yang ada di hari kiamat (Rahmat ahkirat).
A.
Rahmat di Dunia
Rahmat atau
kasih sayang Allah di dunia ini meliputi segala hal, meliputi manusia (mukmin
dan kafir), binatang, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain, dan Allah mewajibkan
diriNya memberi Rahmat. Artinya semua Rahmad Allah yang begitu hebaat dan
banyak, semua diberikan Allah kepada kita dengan tidak kita minta atau kita
tuntut, karena Allah sudah mewajibkan diriNya memberi Rahmat.[5]
Kita lahir di
dunia bukan karena tuntutan kita, terlahir dianugrahi lelaki maupun perempuan,
kita dianugrahi tangan dan kaki, semua tidak karena tuntutan, akan tetapi
semuanya dianugarahi oleh Allah tanpa kita minta.[6]
Seperti kita
dianugari pendengaran. Pendengaran mmerupakan nikmat yang luar biasa. Kita
dapat mendengarkan hal-hal yang bersuara. Pendengaran merupakan nikmat karena
Allah memiliki kasih sayang atau Rahmat kepada kita.
Contoh
sebagian rahmat yang lain adalah rahmat Allah menjadikan siang dan malam.
Seperti dalam surat al-Qashahs ayat 73:
“sebagian dari
rahmat Allah adalah Allah menjadikan siang dan malam untukmu, agar kamu dapat
melepas lelah, dan supaya kamu dapat mencari karunia Allah. Dan mudah-mudahan
kamu bersyukur kepada Allah.”
Apabila Allah
menjadikan malam terus menerus, maka semua manusia, binatang, dan
tumbuh-tumbuhan akan mati dan musnah seluruhnya. Semua makhluk tidak akan hidup
tanpa adanya sinar matahari, maka keadaan hawa akan semakin dingin. Tak
menunggu lama, hawa akan menjadi dingin-sedinginnya, jauh di bawah nol,
sehingga manusia tidak akan sanggup menahannya. Darah akan kaku dan beku,
jantung dan paru tak dapat bergerak sehingga manuisa pasti mati dalam bebrapa
hari saja.[7]
Apabila Allah menjadikan
siang terus menerus, maka seluruh manusia, biantang, dan tumbuh-tumbuhan akan
mati dan musnah. Karena bila siang terus menerus, manusia dan seluruh makhluk
yang ada di bumi ini disiram matahari terus menerus tak ada hentiya. Tak lama
hawa akan semakin menjadi panas dan akhirnya terbakar. Sehingga semua mati dan
musnah, dan menjadi abu.[8]
B.
Rahmat di Akhirat
Adapun rahmat
Allah di akhirat nanti diperuntukan khusus bagi orang-orang mukmin saja,
sebagaimana Allah berfirman:
“SiksaKu akan kutimpakan kepada siapa yang Kku
kehendaki, dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan
rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang
yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (yaitu) Orang-orang yang mengikuti rasul,
nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapatkan tertulis dalam Taurat dan Injil.”
QS. Al-A’raf: 156-157
Oleh karena itu, rahmat Allaah akan di akhirat
nanti jauh lebih luas dibandingkan dengan rahmatNya yang ada didunia.[9]
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin, Bey. 1994. Mengenal tuhan. Surabaya: Bina Ilmu.
Al-Thabari. 2006. Tafsir al-Thabari. juz.11. Beirut.
al-Asyqar, Umar Sulaiman. 2010. Asma Allah al-Husna Ila Allah wa
al-Ma’rifah bihi. Jakarta: Qisthi Press.
[1] Bey Arifin, Mengenal tuhan, hlm.
103.
[2] Al-Thabari
Tafsir al-Thabari, juz.11, hlm.273
[3] Ibid., 103.
[4] Al-Thabari
Tafsir al-Thabari, juz.11, hlm.273
[5] Bey Arifin, Mengenal tuhan, hlm.
110.
[6] Ibid.,
110
[7] Ibid.,
107
[8] Ibid.,
107
[9] Umar
Sulaiman al-Asyqar, Asma Allah al-Husna Ila Allah wa al-Ma’rifah bihi,
hlm.34-35
Comments