Perbandingan Madzhab; Solusi Perpecahan Umat

Perbandingan Madzhab; Solusi Perpecahan Umat

          Pertengkaran dan perpecahan antara umat Islam merupakan permasalahan yang menjadi tema  yang hangat untuk selalu dibahas dalam rangka mencari solusi untuk mengakhiri pertengkaran dan perpecahannya. Karena dari dulu hingga sekarang, tampaknnya umat Islam belum bisa bersatu dalam kesatuan yang utuh dalam ikatan agama Islam yang Kaffah dan Rahmatan li al-Alamin.
          Masalah akidah, pemikiran hukum, politik, dan kekuasaan, merupakan latar belakang yang sering dijadikan materi untuk diperdebatkan yang ujung-ujungnya menimbulkan pertengkaran dan diakhiri dengan perpecahan. Dalam masalah hukum (fikih) saja misalnya, semula mujtahid muthlaq di setiap madzhab tidak menganjurkan pengikutnya untuk selalu setia terhadap hasil ijtihadnya. Tapi dalam kenyataannya, pengikut dalam berbagai madzhab terlalu fanatik dengan madzhabnya. Mereka menganggap bahwa golongannya yang paling benar, dan seolah-olah menyalahkan madzhab yang lain. Begitupun madzhab yang lain (sama fanatiknya). Akibatnya pertempuran intelektual yang berlebihan, dengan meneguhkan pendapat dari mazhabnya terjadi, yang lama kelamaan menjadi panas sehingga menimbulkan pertempuran fisik.

Perbandingan madzhab

Untuk mengakhiri dari perpecahan ini, kita selayaknya berperilaku arif dan bijaksana dalam menghadapi permasalahan ini. Saling membandingkan madzhab tampaknya menjadi solusi untuk mengakhiri virus umat yang belum terbasmi ini. Perbandingan antar berbagai madzhab merupakan langkah untuk menganalis dan membandingkan antara satu madzhab dengan madzhab  yang lain. Setelah membandingkannya antara satu madzhab dengan madzhab yang lain, kita jadi tahu ijtihad mana yang benar dan mana yang lebih benar, walaupun terkadang ada ijtihad yang kurang benar.
Setalah mengetahui macam-macam ijtihad dan istidalal dari beberapa mujtahid, kita jadi tahu betapa indahnya Islam. Meskipun dari sumber yang sama, yaitu al-Qur’an dan Hadits, akan menghasilkan banyak perbedaan, dikarenakan penggalian (istimbat) dan istidlal yang berbeda.
Misalnya perbedaan karena memahami nash yang lafadznya musytarok. Seperti lafadz qor’un (Quru’). Terkadang lafadz ini diartikan suci dan diartikan haid. Imam syafi’i berpendapat bahwa qor’un adalah suci, sedangkan imam Hanafi berpendapat bahwa qor’un berarti haid. contoh seperti ini adalah segelintir kecil perbedaan antara madzhab klasik. Kalau kita rasakan masih ada banyak perbedaan dari masalah akidah, fikih, ushul fikih, dll. Belum lagi antara mazhab kontemporer seperti Muhammadiyyah, NU, Persis, dll.
Maka dari itu, saling membandingkan antar madzhab merupakan jalan yang harus ditempuh untuk menyatukan umat Islam dari perpecahan. Perbandingan madzhab tampaknya akan menjadi perekat antara satu madzhab dengan madzhab yang lain dengan landsan rasa tasamuh dan saling menghormati.

Saling menghormati

          setelah mengetahui agama Islam itu meridhoi adanya perbedaan, maka langkah selanjutnya adalah saling menghormati antara satu madzhab dengan madzhab yang lain serta tidak saling menyalahkan antara satu sama lain. Karena kita tidak tahu bagaiamana kebenaran yang hakiki menurut Allah. Kita hanya dapat berusaha menggunakan akal pikir kita dengan semaksimal mugkin untuk memahami al-Qur’an dan Hadits. Jika benar akan menadapat dua pahala. Jika salah akan mendapat satu pahala.


Comments

Popular posts from this blog

Problem Zakat Fitrah Sekarang Ini

Komparasi Metode Istimbath NU dan Muhamadiyyah, Solusi kebingunan