Tafsir Falafi

1.      Tafsir Falsafi
Yang dimaksud dengan tafsir falsafi (al-tafsir al-falsafi) ialah penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an bedasarkan pendekatan logika atau pemikiran filsafat yang pada umumnya difokuskan pada bidang filsafat dan menyesuaikan paham filsafat melalui petunjuk yang berupa rumus-rumus. Tafsir dengan corak ini muncul bersamaan dengan berkembangnya ilmu-ilmu agama dan sains diberbagai wilayah kekuasaan islam , yaitu pada metode penterjemahan di masa Abbasiyah, di masa ini merupakan momentum bagi perkembangan dan ilmu tersebut, buku-buku filsafat Yunani yang banyak diterjemahkan kedalam bahasa Arab saat itu adalah karya Plato dan Aristoteles.[i]
Namun harus dicatat bahwa perkembangan ilmu-ilmu tersebut, khususnya filsafat, menimbulakan pro dan kontra dikalangan ulama kaum muslimin. bagi golongan yang kontra dengan filsafat beranggapan bahwa pemikiran filsafat dianggap banyak bertentangan dengan akidah dan agama. Tokoh-tokoh sepreti al-Ghazali menyerang habis-habisan pemikiran para filusuf, khususnya filusuf paripatek, Ibnu Shina dan lain-lain.[ii] Demikian halnya dengan Imam Fakhruddin al-Razi, pengarang kitab Mafatih al-Ghaib. Ia bahkan mengatakan bahwa perpaduan antara agama dan filsafat tidak akan tercapai sampai ke titik akhir, kecuali hanya sampai titik pertengahan saja.
Muhammad Husayyn al-Dzahabi ketika mengomentari perihal tafsir falsafi antara lain menyatakan bahwa menurut penyelidikannya dalam banyak segi pembahasan-pembahasan filasafat bercampur dengan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Di antara contohnya ia menyebutkan penafsiran sebagai filsuf yang mengingkari kemungkinan mi’raj Nabi Muhammad Saw. Dengan fisik di samping rohnya. Mereka hanya meyakini kemungkina mi’raj Nabi Muhammad Saw. Hanya dengan roh tanpa jasad.[iii]
Sebenarnya, penafsiran filsafat relatif banyak dijumpai dalam sejumlah kitab tafsir yang membahas ayat-ayat tertentu yang memerlukan pendekatan filsafat. Namun, kitab-kitab tafsir yang secara spesifik melakukaan pendekatan penafsiran secara keseluruhan terhadap semua ayat al-Qur’an tidak begitu banyak.[iv] Seperti kata al-Dzahabi: “kami tidak pernah mendengar ada seorang filsuf­­ –yang mengagung-agungkan filsafat- yang mengarang satu kitab tafsir al-Qur’an yang lengkap. Yang kami temukan hanya sebagian pemahaman mereka terhadap al-Qur’an yang berpencar-pencar dalam buku filsafat dalam buku-buku filsafat karangan mereka.[v]



[i] Dr. Usman, M. Ag, Ilmu Tafsir, h. 292
[ii] ‘ali Hasan al-‘Aridl,op.cit., h. 61.
[iii] Muhammad Husayn Al-Dzahhabi, op.cit, hlm. 210.
[iv] Muhammad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir, h.201.
[v] Ibid.

Comments

Popular posts from this blog

Problem Zakat Fitrah Sekarang Ini

Komparasi Metode Istimbath NU dan Muhamadiyyah, Solusi kebingunan