4. Puasa,
perbedaannya, (1) waktu berbuka kelompok syiah lebih lambat sekitar sepuluh
menit dari ahlussunnah, karena mereka beranggapan bahwa terbenamnya matahari
baru bisa diyakini dengan hilangnya awan merah. (2) ketika sengaja berada dalam
keadaan junub hingga terbitnya fajar, maka puasanya tidak sah. (3) puasa bagi
musafir, hukumnya tidak sah. Tetapi ada sebagian ulama syiah yang menggapnya makruh.
5. Haji,
menurut syiah itsna asyariyyah, berpakaian ihram tidak dibenarkan adanya.
Selain itu, berrcermin, berteduh dalam perjalanan, atau mengendarai kendaraan
yang beratap tidak dibenarkan. Kecuali ketika berjalan kaki, maka ia boleh
melalui suatu teduhan seperti pohon, atap bangunan, dll.

6. Pernikahan,
perbedaan yang paling menonjol adalah nikah mut’ah, yaitu perkawinan
dengan batas waktu yang ditetapkan. Syi’ah Itsna Asyariyyah tidak mengakui
adanya pembatalan dari Nabi, sehingga mereka tetap membolehkannya sampai kini.
7. Thalaq/Perceraian,
menurut paham ini thalaq tidak dapat dijatuhkan kecuali disaksikan oleh dua
orang saksi. Ini berbeda dengan ahlussunnah yang berpendapat, thalaq bisa jatuh
tanpa adanya saksi.
Perbedaan yang sedemikian ini, menurut saya tidak bisa
dikatakan sebagai orang yang keluar dari Islam. karena menurut saya, adalah
seorang muslim jika masih percaya bahwa tuhannya “Allah”. Sedangkan percaya
bahwa Nabi Muhammad adalah utusannya, sekaligus Nabi Akhir zaman. Walaupun seorang
tersebut belum dapat melakukan shalat, zakat, dll.
Banyak orang yang disekeliling saya percaya Allah dan Nabi Muhammad, tapi mereka belum bisa melakukan shalat, lantas haruskah saya menganggap mereka kafir. Apalagi haruskah saya membunuhnya? Cara yang sedemikian tersebut tidak sesuai dengan hati nurani saya. Maka dari itu, janganlah mudah meng-kafir-kan seseorang. Karena mereka belum tentu kafir di hadapan Allah.
perbedaan memang sebuah keniscayaan. karena perbedaan adalah kodrat dari Allah. kita harus bisa menerima peredaan dan saling menghormatinya
Banyak orang yang disekeliling saya percaya Allah dan Nabi Muhammad, tapi mereka belum bisa melakukan shalat, lantas haruskah saya menganggap mereka kafir. Apalagi haruskah saya membunuhnya? Cara yang sedemikian tersebut tidak sesuai dengan hati nurani saya. Maka dari itu, janganlah mudah meng-kafir-kan seseorang. Karena mereka belum tentu kafir di hadapan Allah.
perbedaan memang sebuah keniscayaan. karena perbedaan adalah kodrat dari Allah. kita harus bisa menerima peredaan dan saling menghormatinya
Comments